Rabu, 15 Juni 2016

STUDI KAWASAN KONSERVASI KOTA TUA JAKARTA: KAWASAN TAMAN FATAHILLAH

A.    Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Jakarta merupakan Kota yang menyimpan banyak sekali harta di dalamnya. Salah satu harta yang masih dapat dirasakan olah masyarakatnya hingga sekarang adalah arsitektur tuanya. Salah satu kawasan sejarah yang sangat dilindungi adalah kawasan Kota Tua Jakarta. Diusianya yang sudah tua sejak terbentuknya Kota Jakarta, kawasan Kota Tua memiliki nilai historis yang tinggi, maka sudah sepatutnya warisan tersebut harus terus dilindungi dan dipertahankan kelestariannya. 
Upaya konservasi terus dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat untuk mencegah hilangnya identitas serta meningkatkan pariwisata dan bisnis kawasan Kota Tua Jakarta. Pembangunan yang masih terus berjalan tersebut masih memiliki kekurangan diantaranya, image kota tua yang masih dinilai kurang menguntungkan dilihat dari sisi bisnis skala besar, kurangnya fasilitas penunjang kawasan yang berakibat kurang nyamannya area terbuka bagi pengunjung terlebih ketika cuaca sangat terik, kondisi infrastruktur yang kurang mendukung, lalu lintas yang tidak teratur, kualitas lingkungan yang masih rendah, serta area parkir yang masih berantakan.
Melihat kondisi Kota Tua yang masih banyak memiliki permasalahan, maka perlu adanya upaya menyeluruh dari berbagai lapisan masyarakat khususnya di Ibukota Jakarta untuk mewujudkan Kota Tua sebagai kawasan pariwisata dan kawasan cagar budaya yang mendukung Kota Jakarta.

1.2. Tujuan
1.      Menganalisa permasalahan yang terdapat pada kawasan Kota Tua
2.      Peningkatan citra kawasan agar semakin kuat

1.3. Permasalahan
1.      Kawasan Kota Tua masih memiliki banyak kekurangan dalam hal pelestarian lingkungan.
2.      Citra kawasan yang terkesan kumuh, kurang menguntungkan dan berantakan.

B.     Data Studi Kasus Kota Tua
Kota Tua atau Oud Batavia merupakan warisan peninggalan era kolonial Belanda yang dibangun sekitar abad ke-19 dan 20. Dulu, kawasan ini merupakan pusat administratif Hindia Timur Belanda. Hal tersebut terlihat dari fungsi bangunan disekitar kawasan Kota Tua yang sebelumnya merupakan bangunan-bangunan perdagangan dan jasa.
1.      Museum Fatahillah

Museum Fatahillah memiliki nama resmi Museum Sejarah Jakarta adalah sebuah museum yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 1, Jakarta Barat dengan luas lebih dari 1.300 meter persegi. Gedung ini dulu merupakan Balai Kota Batavia VOC yang dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur JendralJohan van Hoorn. Bangunan itu menyerupai Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara. Pada tanggal 30 Maret1974, gedung ini kemudian diresmikan sebagai Museum Fatahillah(wikipedia).


Gambar 1.1. Museum Fatahillah
(Sumber: Indonesiatravel.com)
1.      Café Batavia
Bangunan gedung Café Batavia didirikan antara tahun 1805 & 1850, pernah berfungsi sebagai tempattinggal, gudang, kantor, art gallery dan akhirnya menjadi café hingga sekarang. Café Batavia  Masuk kedalam Bangunan Cagar Budaya golongan C, dimana dapat dilakukan program revitalisasi maupun adaptasi namun arsitektur bangunan tetap dipertahankan.
Pada 1993, bangunan ini dibeli oleh seorang warganegara Australia bernama Graham James, yang saatinimenetap di Pulau Bali.Hampirsemuaruangan yang terdapat di Cafe Batavia masihmenggunakanperlengkapanpeninggalan pemiliknya dimasasilam (Margie C., 2010).


Gambar 1.2.    Café Batavia
(Sumber: Timetravelturtle.com)


1.      Gedung PT. Jakarta Lloyd
Djakarta Lloyd didirikan di Tegal pada tanggal 18 Agustus 1950 oleh beberapa anggota TNI Angkatan Laut yang bercita-cita mendirikan suatu perusahaan pelayaran samudera.Pada awalnya Djakarta Lloyd memiliki 2 kapal uap yaitu SS Jakarta Raya dan SS Djatinegara. Kini Djakarta Lloyd melayani jalur samudera dan antar pulau dalam negeri dan memiliki 14 kapal.
Pada tahun 1961 berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 108 tahun 1961 status Perusahaan berubah menjadi Perusahaan Negara dengan nama PN Djakarta Lloyd. Di era 1990an, PT Djakarta Lloyd tidak lagi mendominasi jalur angkutan laut di dalam negeri (Djakartalloyd).


Gambar 1.3.   PT. Djakarta Lloyd
(Sumber: Gresnews.com)

1.      Dasaad Musin
Gedung Dasaad Musin dibangun pada tahun 1857. Gedung yang berlokasi di jalan kunir kawasan Fatahillah ini dulunya adalah kantor miliki Agus Dasaad Musin, konglomerat pada jaman itu. Beliau memiliki usaha dibidang perkapalan. Usahanya ditutup saat era Orde Baru berkuasa. Kondisi gedung ini sudah banyak yang mengalami kerusakan diantaranya atap yang roboh dan dinding yang keropos. (Huzer Apriansyah, 2011).


Gambar 1.4.    Gedung Dasaad Musin
(Sumber: Eibidiei.wordpress.com)

1.      Kantor Jasindo
Gedung Jasindo ini terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 2 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta.Gedung Jasindo adalah bangunan bekas gedung NV West-Java Handel-Maatschappij (WEVA) atau Kantoorgeouwen West-Java Handel-Maatschappij, yang dibangun pada tahun 1912. Desain bangunan ini dilakukan oleh NV Architecten-Ingenieursbureau Hulswit en Fermont te Weltevreden en Ed. Cupers te Amsterdam.
Gedung ini sekarang dimiliki oleh PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo), namun sudah tidak dipergunakan lagi lantaran kondisi gedung sudah mengkhawatirkan. Pada bagian atapnya mengalami pelapukan. Setelah gedung dikosongkan oleh PT Jasindo, gedung tersebut dimanfaatkan untuk hiburan biliar. Sebagian lagi digunakan untuk berjualan pakaian, rokok, dan minuman ringan. Kondisi ini menyebabkan bangunan tersebut semakin tidak terurus dan sangat memprihatinkan karena dibiarkan terbengkelai oleh PT Jasindo tanpa ada pemeliharaan dan perbaikan (issuu, 2013).


Gambar 1.5.    Gedung Jasindo
(Sumber: Skyscrapercity.com)

1.      Kantor Pos
Gedung tua yang terletak di JI. Pos No.2, Jakarta Pusat, dibangun sekitar pertengahan abad ke-19. Peruntukkannya sebagai Kantor Pos dan dikenal dengan sebutan gedung PTT (Pos Telegraf dan Telepon). Gedung ini mengalami beberapa kali perubahan nama. Awalnya bernama "Gedung PTT Pasar Baru", mulai dikenal sejak zaman penjajahan sampai sekitar tahun 1940-an. Pada masa revolusi fisik berubah menjadi "Kantor Pos dan Telegraf Pasar Baru", berganti lagi menjadi "Kantor Pos Kawat Pasar Baru", Sejak tahun 1963 menjadi "Gedung Pos Ibukota" disingkat GPI atau disebut juga "Kantor Pos Ibukota Jakarta Raya".
Bangunan ini dirancang oleh Ir. R. Baumgartner yang bekerja sebagai arsitek pada Bouw Kundig Bureau pada departemen Van BOW. Secara fisik bentuk bangunan gedung Kantor Pos dan Giro Pasar Baru menunjukkan arsitektur Belanda dengan relung serta kaca-kaca berkembang yang menghiasi bagian depan gedung, bentuknya serupa dengan bangunan stasiun Kereta Api Jakarta Kota(Jakarta.go.id).


Gambar 1.6.    Gedung Kantor Pos
(Sumber: Sarasvatati.co.id)

1.      Museum Seni Rupa dan Keramik
Gedung Museum Seni Rupa dan Keramik ini dibangun pada tahun 1870. Sebagai Lembaga Peradilan tertinggi Belanda (Raad van Justitie), kemudian pada masa pendudukan Jepang dan perjuangan kemerdekaan Indonesia gedung ini dijadikan sebagai asrama militer. Selanjutnya pada tahun 1967 digunakan sebagai Kantor Walikota Jakarta.
Pada tahun 1968 hingga 1975 gedung ini pernah digunakan sebagai Kantor Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta. Pada tanggal 20 Agustus 1976 diresmikan sebagai Gedung Balai Seni Rupa oleh Presiden Soeharto. Dan di gedung ini pula terdapat Museum Keramik yang diresmikan oleh Bapak Ali Sadikin (Gubernur DKI Jakarta) pada tanggal 10 Juni 1977, kemudian pada tahun 1990 sampai sekarang menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik (Museum Indonesia).


Gambar 1.7.    Museum Seni Rupa dan Keramik
(Sumber: anythingjakarta.com)

1.      Museum Wayang
Pada awalnya bangunan ini bernama De Oude Hollandsche Kerk ("Gereja Lama Belanda") dan dibangun pertamakali pada tahun 1640. Tahun 1732 diperbaiki dan berganti nama De Nieuwe Hollandse Kerk (Gereja Baru Belanda) hingga tahun 1808 akibat hancur oleh gempa bumi pada tahun yang sama. Di atas tanah bekas reruntuhan inilah dibangun gedung museum wayang dan diresmikan. pemakaiannya sebagai museum pada 13 Agustus1975. Meskipun telah dipugar beberapa bagian gereja lama dan baru masih tampak terlihat dalam bangunan ini(wikipedia).


Gambar 1.8.    Museum Wayang
(Sumber: Wikipedia)


A.    Analisis Kasus Kota Tua
            Konservasi tidak hanya mempertahankan bentuk ( kebetulan pada kawasan ini bangunan memiliki tipe konservasi Tipe A yang diharuskan untuk menjaga keaslian bangunan ) tetapi memelihara serta menumbuhkan atau menghidupkan kegiatan disekitar kawasan tua atau bersejarah dan salah satunya memvariasikan kegiatan yang satu sama yang lain sehingga adanya daya tarik untuk pergi ke kawasan tersebut.
            Adapun beberapa kegiatan yang ada disekitar kawasan ini antara lain seperti pedagang kaki lima yang menjajakan barang atau jasa seperti penyewaan sepeda ontel.


Gambar 1.9.    Penyewaan sepeda ontel
(Sumber: dokumen pribadi)

Untuk penyewaan sepeda ontel merupakan daya tarik yang sangat kuat karena sudah jarang sepeda ini dapat dilihat dan disini kita bisa menyewanya untuk berputar-putar diplaza kawasan ini. Untuk melengkapi kegiatan ada juga beberapa pedagang kaki lima yang menjajakan makanan, convenience store, juga kafe.

Peta Kawasan Sekitar Museum Fatahillah
Sumber : Dokumen pribadi

Tabel Keterangan Gambar
No.
Keterangan
Gambar
1.
Museum Fatahillah

Sumber : Dokumen pribadi
2.
Kafe Kopi Batavia

Sumber : Dokumen pribadi
3.
PT. Jakarta Llyod

 

Sumber : Dokumen pribadi
4.
Dasaad Musin

Sumber : Dokumen pribadi
5.
Jasindo

Sumber : Dokumen pribadi
6.
Kantor Pos Indonesia

Sumber : Dokumen pribadi
7.
Museum Keramik dan Seni Rupa

Sumber : Dokumen pribadi
8.
Museum Wayang

Sumber : Dokumen pribadi
Sumber : Dokumen pribadi

            D. Analisis Makro
Taman Fatahillah merupakan pusat kota Batavia pada masa kolonial. Terdapat berbagai fungsi bangunan didalamnya yang merupakan penunjang utama kegiatan pemerintahan pada masa itu. Saat ini Fungsi dari bangunan-bangunan sudah mengalami perubahan fungsi (adaptive re-use) dengan mengadaptasi kebutuhan ruang pada saat ini.

Kawasan Fatahillah berubah menjadi sebuah sarana rekreasi bagi banyak orang. Bangunan-bangunan tua terus mengalami perbaikan dari sisi fisik, untuk diangkat kembali kevitalannya guna menjadi sarana rekreasi kota lama di pusat Ibukota Jakarta. Segala sisi terus mengalami perbaikan, baik dari area plaza yang dihias dengan lampu-lampu jalan agar dapat juga difungsikan pada malam hari, perbaikan perkerasan, perbaikan dan perawatan fisik bangunan, dan peningkatan fasilitas penunjang kegiatan didalamya.

1.      Museum Fatahillah
Bangunan yang tadinya merupakan balai kota Batavia VOC tersebut bentuknya masihlah terjaga dari dahulu zaman penjajahan Belanda hingga saat ini. Keaslian bentuk bangunannya masih terlihat jelasa dan terjaga baik. Beberapa kali sempat dilakukan kegiatan konservasi terhadap bangunan tersebut mulai dari perbaikan bagian bangunan hingga pengecatan rutin pada fasade bangunan.


No.
Keterangan
Gambar
1

























2







3







4











5
Kondisi Bangunan Museum Fatahillah
Arsitektur museum Fatahillah bergaya arsitektur Neo-Klasik dengan cat berwarna kuning tanah, kusen pintu dan jendela yang terbuat dari kayu jati berwarna hijau tua, selain itu pada bagian atap terdapatpenunjuk arah mata angin yang mencirikan bangunan-bangunan era kolonial.
Jenis ornament yang ada pada bangunan merupakan gaya klasik Kolonial Belanda yang sesuai dengan zamannya dimasa itu.Museum ini memiliki luas lebih dari 1.300 meter persegi dengan bentuk persegi panjang. Pekarangan terdiri dari susunan konblok yang berfungsi sebagai plaza berkumpul. Sebelumnya Plaza Fatahillah memiliki cukup banyak vegetasi pepohonan rindang namun saat ini plaza Fatahillah terasa begitu gersang dan panas dengan minimnya penghijauan.

Pilar-pilar tinggi menghiasi dan menandakan letak pintu masuk pada museum Fatahillah, yang mana menjadi gerbang utama untuk masuk kedalam museum. Pilar berwarna putih dan bergaya arsitektur kolonial.

Jendela dan Pintu
Jendela dan Pintu terbuat dari kayu jati yang dicat berwarna hijau. Warnanya cukup kontras dengan warna bangunan yang berwarna putih. Beberapa kali dilakukan pemugaran karena terjadinya pelapukan kayu pada jendela dan pintu bangunan.

Atap Bangunan
Atap bangunan memiliki bentukan atap tropis, yang mana mengadaptasi dari iklim Indonesia yang beriklim tropis. Atap memiliki tritisan yang cukup lebar untuk merespon Iklim dan memberikan gaya baru pada bangunan kolonial.

Fungsi Bangunan
Fungsi Bangunan untuk fungsi awal dan sekarang memiliki fungsi yang berbeda. Untuk periode sebelumnya bangunan berfungsi sebagai balai kota Batavia (VOC) dan untuk saat ini bangunan berfungsi sebagai museum, yang mana memiliki layout ruang baru dari fungsi sebelumnya. Museum menampilkan peninggalan pada masa kolonial baik ari foto maupu gambaran suasana pada masa itu.

Zona Penunjang dan Parkir
Museum Fatahillah dirasa masih kekurangan ruang parkir dibandingkan dengan jumlah pengunjung yang datang, seringkali area parkir memenuhi trotoar khusus pejalan kaki.



Sumber : Dokumen Pribadi






















Sumber : http://1.bp.blogspot.com



Sumber : Dokumen Pribadi
  
  
Sumber : Dokumen Pribadi




Sumber : Google.com
Kesimpulan
Bangunan masih memiliki bentuk bangunan yang sama dengan bentuk bangunan aslinya. Hanya saja terkadang diperlukan perawatan terhadap beberapa unsur bangunan yang rusak dimakan usia tetapi tetap memepertahankan bentuk aslinya. Perbedaan hanya terdapat pada fungsi bangunan yang tadinya berfungsi sebagai balai kota Batavia dan sekarang berubah menjadi fungsi Museum Batavia.

Fatahillah Dulu

Fatahillah Sekarang
Sumber: Data Pribadi
1.      Cafe Batavia
Cafe Batavia adalah sebuah kafe yang berada di daerah Kota Tua, bereksterior antik dengan arsitektur khas peninggalan zaman kolonial Belanda. Cafe Batavia menawarkan keindahan interior unik. Konsep yang ditawarkan Cafe Batavia ini sangatlah menarik karena mengangkat temamasa lalu Jakarta yang akan membuat pengunjung mengenang masa lalunya di Cafe Batavia ini. Interior yang mendukung tentu saja akan semakin membuat pengunjung betah untuk berlama-lama di cafe tersebut untuk mengenang masa lalunya.
No
Keterangan
Gambar
1.
Atap

Atap menggunakan atap perisai, tidak mengubah arsitektur bangunan


Sumber: DokumenPribadi 

2.
Jendela

Jendela pada Café Batavia masih menggunakan desain peninggalan jendela Belanda. Pada bagian jendela dan pintu lantai satu sudah mendapat sentuhan modern dan ditambah kan berupa Canopy bertuliskan “Café Batavia”
Sumber : Dokumen Pribadi


 



Sumber : Dokumen Pribadi


Sumber : Dokumen Pribadi



3.
Vegetasi

Pada Café Batavia terdapat vegetasi berupa tanaman pot yang disusun untuk membatasi antara café dengan lingkungan luar.

Sumber : Dokumen Pribadi



























































3. Jakarta Lloyd
No
KETERANGAN
GAMBAR

         1.
JENDELA
(terdapat 4 jenis jendela pada bangunan Lloyd Djakarta)








           2.
PINTU
(terdapat 2 jenis pintu yang berbeda )





            3.
DINDING
1.      Dasaad Musin
Gedung ini terletak di kawasan kota tua Jakarta lebih tepatnya bersebelahan dengan gedung Jasindo. Bangunan dibangun sekitar 1920 dan berfungsi sebagai Rumah Tinggal. Gaya bangunan Gedung ini adalah neoklasik. Kondisi Gedung ini makin lama makin memperihatinkan karena keadaannya yang sudah rusak disana-sini sehingga tidak bisa difungsikan lagi.
     Gedung ini akan direstorasi dimana akan dikembalian ke dalam bentuk aslinya dan difungsikan sebagai ruang publik nantinya. Rencananya bangunan berlantai 3 itu akan dibuat kafe pada lantai satu dan perkantoran di lantai 2 dan 3. Adapun kesulitan dalam mencari data karena kepemilikan yang bergati-ganti diamana tahun 1946-1958 untuk kepemilikan atas nama Dassaad Mussin Concern dan sekarang kepemilikan ada di tangan Wahidin Saleh.[1] Saat ini Gedung Dasaad Musin Concern yang sekarang dalam proses restorasi bisa dilihat dari gambar berikut.


[1] http://www.antaranews.com/berita/453324/gedung-dasaad-musin-di-kota-...2


Gedung Dasaad Musin Concern yang sedang di Restorasi
Sumber : Dokumen pribadi

Untuk Kegiatan  Bangunan sekitar Gedung Dasaad Musin Concern yang telah berubah menjadi ruang publik kebanyakan dibuat kafe, museum, serta toilet umum dan musholla. Lalu dikawasan tersebut terdapat juga penyewaan sepeda ontel yang berwarna- warni. Sirkulasi pejalan kaki di kanan kirinya juga terdapat pedagang kaki lima yang menjual barang maupun jasa. Keadaaan pengunjung memang jauh berbeda antara hari libur dan hari biasa. Dimana hari biasa pengunjung tidak terlalu banyak dan dapat menikmati kawasan sekitar Museum Fatahillah tersebut tetapi jika pada hari libur keadaannya sangat ramai.
            Untuk itu jika ingin  dijadikan rental office dirasa tidak masalah karena keadaan yang tidak terlalu ramai saat bukan hari libur sehingga tidak mengganggu kegiatan satu sama lain. Malah memberikan pengunjung tambahan jika bukan hari libur walaupun penambahannya tidak banyak. Untuk Membuka kafe dirasa cocok untuk menunjang para penyewa rental office. Selanjutnya untuk parkir, karena tidak ramai untuk hari biasa bisa dijadikan alasan mengapa tidak apa-apa jika dibuat fungsi sebagai rental office. Juga tempat yang strategis di pinggir jalan raya.
            Pengembalian bentuk bangunan ke wajah aslinya memang sulit dan butuh kejelian dalam pendataan sehingga akurat atau benar-benar sepeti aslinya apalagi jika keadaan bangunan yang sudah rusak. Untuk itu berikut gambar gambar detail bangunan dari gedung Gedung Dasaad Musin Concern yang belum direstorasi.

No.
Keterangan
Gambar
1
Jendela
Terdapat beberapa tipe jendela yang ada disana





Sumber : https://eibidiei.wordpress.com/2013/10/15/gedung-dasaad-musin-concern/


Sumber : Dokumen pribadi
2
Pintu


Sumber : https://eibidiei.wordpress.com/2013/10/15/gedung-dasaad-musin-concern/
3
Dinding



Sumber : https://eibidiei.wordpress.com/2013/10/15/gedung-dasaad-musin-concern/

Dulu
                       Sekarang


Sumber : https://eibidiei.wordpress.com/2013/10/15/gedung-dasaad-musin-concern/


Sumber : Dokumen pribadi (2016 )
            Gedung Dasaaad musin yang sejauh ini  direstorasi mengikuti bentuk aslinya walaupun luarnya saja. diharapkan sampai jenis jendela mengadaptasi yang lama. Juga fungsi baru yang ingin dibentuk yaitu sebagai rental office dan  kafe dirasa cocok karena tempaknya strategis dipinggir jalan dan lahan parkir yang memadai.

1.      Kantor Jasindo
Gedung Jasindo adalah bangunan bekas gedung NV West-Java Handel-Maatschappij (WEVA) atau Kantoorgeouwen West-Java Handel-Maatschappij, yang dibangun pada tahun 1912. Desain bangunan ini dilakukan oleh NV Architecten-Ingenieursbureau Hulswit en Fermont te Weltevreden en Ed. Cupers te Amsterdam.
Gedung ini sekarang dimiliki oleh PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo), namun sudah tidak dipergunakan lagi lantaran kondisi gedung sudah mengkhawatirkan. Pada bagian atapnya mengalami pelapukan. Setelah gedung dikosongkan oleh PT Jasindo, gedung tersebut dimanfaatkan untuk hiburan biliar. Sebagian lagi digunakan untuk berjualan pakaian, rokok, dan minuman ringan. Kondisi ini menyebabkan bangunan tersebut semakin tidak terurus dan sangat memprihatinkan karena dibiarkan terbengkelai oleh PT Jasindo tanpa ada pemeliharaan dan perbaikan.

No.
Keterangan
Gambar
1.
Jendela (terdapat beberapa bentuk jendela pada  bangunan
Gedung Jasindo)



2.
Pola Fasad (Bangunan ini menggunakan bentuk fasad dengan pola simetris. Dimana ketika dipotong pada bagian tengah bangunan, akan menghasilkan pola bentuk yang sama antara kedua sisinya)


3.
Ornamen (Terdapat beberapa ornamen yang menghiasi bangunan Gedung jasindo ini)




4.
Atap (Pada bagian atap menggunakan plafond yang berpola persegi yang menggunakan ornamen dengan jarak yang sama.



1.      Kantor POS Indonesia
Bangunan ini dirancang oleh Ir. R. Baumgartner yang bekerja sebagai arsitek pada Bouw Kundig Bureau pada departemen Van BOW. Gedung yang sejak awal memang dirancang sewbagai kantor pos ini dibangun pada tahun 1928.Bangunan didominasi adanya lubang-lubang jendela vertikal mengimbangi bangunan yang “horizontal” melebar. Ketinggian langit-langit yang relatif tinggi memungkinkan penghawaan alamiah sehingga mendukung kenyamanan bangunan.Secara fisik bentuk bangunan gedung Kantor Pos dan Giro Pasar Baru menunjukkan arsitektur Belanda dengan relung serta kaca-kaca berkembang yang menghiasi bagian depan gedung, bentuknya mirip bangunan stasiun Kereta Api Jakarta Kota.Atap terbuat dari seng dengan tiang-tiang besi pipih sebagai penyangga.

No.
Keterangan
Gambar
1.
Jendela
sumber: kotatuaku.com

Bangunan didominasi adanya lubang-lubang jendela vertikal mengimbangi bangunan yang “horizontal” melebar.

2.
Atap
sumber: http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/1395/Kantor-Pos-dan-Giro-Pasar-Baru-Gedung

Atap terbuat dari seng dengan tiang-tiang besi pipih sebagai penyangga.
3.
Interior


sumber: www. nenogram.com


Dirancang oleh arsitek JF Hoytema dengan gaya arsitektur Art Deco, yang dipengaruhi oleh aliran Art and Craft pada detail interiornya
4.
Fasade


sumber: kotatuaku.com



Kantor POS dulu dan sekarang

1.      Museum Seni Rupa dan Keramik




Gedung Museum Seni Rupa dan Keramik dengan luas bangunan ±2430m² dan dibangun diatas tanah seluas + 8875 m². Museum ini memiliki gaya arsitektur Eropa Empire. Ciri khas gaya arsitektur ini pada umumnya bagian atas depan berbentuk segitiga yang menggambarkan Crown atau Mahkota Raja, sedang bagian teras depan ditopang tiang pilar atau Doric (doria). Tiang-tiang pilar seperti ini juga dijumpai pada bangunan dari jaman Mesir Kuno sebagai simbol atau penggambaran dari pasukan tentara yang mendukung kekuatan dan kokohnya kerajaan. Gedung museum Seni Rupa dan Keramik dirancang oleh Jhr. W H.F.H. Raders. Berikut gaya arsitektur Eropa yang diaplikasikan pada bangunan Museum Seni Rupa dan Keramik.



E. Kesimpulan
Bangunan pada kawasan Taman Fatahillah masih sama dalam bentuk fisik dengan bentuk aslinya. Terdapat berbagai macam fungsi bangunan baik yang terawat dengan baik maupun sedang memasuki tahap pemugaran. Perbedaan terdapat hanya pada fungsi bangunan yang mengubah fungsi aslinya menjadi fungsi yang diperlukan saat ini. Pengembangan juga terdapat pada penambahan street furniture, penerangan maupun fasilitas penunjang lainnya. Kawasan Taman Fatahillah diarahkan kepada fungsi kawasan wisata kota tua peninggalan masa kolonial, dan kekhasan bentuk bangunan (bentuk asli) dijadikan sebagai daya tarik wisata sejarah di Ibukota.