A.
Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Jakarta merupakan Kota yang menyimpan
banyak sekali harta di dalamnya. Salah satu harta yang masih dapat dirasakan
olah masyarakatnya hingga sekarang adalah arsitektur tuanya. Salah satu kawasan
sejarah yang sangat dilindungi adalah kawasan Kota Tua Jakarta. Diusianya yang
sudah tua sejak terbentuknya Kota Jakarta, kawasan Kota Tua memiliki nilai
historis yang tinggi, maka sudah sepatutnya warisan tersebut harus terus
dilindungi dan dipertahankan kelestariannya.
Upaya konservasi terus dilakukan oleh
pemerintah dan masyarakat untuk mencegah hilangnya identitas serta meningkatkan
pariwisata dan bisnis kawasan Kota Tua Jakarta. Pembangunan yang masih terus
berjalan tersebut masih memiliki kekurangan diantaranya, image kota tua yang
masih dinilai kurang menguntungkan dilihat dari sisi bisnis skala besar,
kurangnya fasilitas penunjang kawasan yang berakibat kurang nyamannya area
terbuka bagi pengunjung terlebih ketika cuaca sangat terik, kondisi
infrastruktur yang kurang mendukung, lalu lintas yang tidak teratur, kualitas
lingkungan yang masih rendah, serta area parkir yang masih berantakan.
Melihat kondisi Kota Tua yang masih
banyak memiliki permasalahan, maka perlu adanya upaya menyeluruh dari berbagai
lapisan masyarakat khususnya di Ibukota Jakarta untuk mewujudkan Kota Tua
sebagai kawasan pariwisata dan kawasan cagar budaya yang mendukung Kota
Jakarta.
1.2. Tujuan
1. Menganalisa
permasalahan yang terdapat pada kawasan Kota Tua
2. Peningkatan
citra kawasan agar semakin kuat
1.3. Permasalahan
1. Kawasan
Kota Tua masih memiliki banyak kekurangan dalam hal pelestarian lingkungan.
2. Citra
kawasan yang terkesan kumuh, kurang menguntungkan dan berantakan.
B.
Data
Studi Kasus Kota Tua
Kota
Tua atau Oud Batavia merupakan warisan peninggalan era kolonial Belanda yang
dibangun sekitar abad ke-19 dan 20. Dulu, kawasan ini merupakan pusat
administratif Hindia Timur Belanda. Hal tersebut terlihat dari fungsi bangunan
disekitar kawasan Kota Tua yang sebelumnya merupakan bangunan-bangunan
perdagangan dan jasa.
1. Museum
Fatahillah
Museum Fatahillah memiliki nama resmi Museum Sejarah Jakarta adalah sebuah museum yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No.
1, Jakarta Barat dengan luas lebih dari 1.300 meter persegi.
Gedung ini dulu merupakan Balai Kota Batavia VOC yang dibangun pada tahun
1707-1710 atas perintah Gubernur JendralJohan
van Hoorn.
Bangunan itu menyerupai Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua
sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai
kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai
penjara. Pada tanggal 30
Maret1974, gedung ini kemudian diresmikan sebagai
Museum Fatahillah(wikipedia).
Gambar
1.1. Museum Fatahillah
(Sumber: Indonesiatravel.com)
1.
Café Batavia
Bangunan
gedung Café Batavia didirikan antara tahun 1805 & 1850,
pernah berfungsi sebagai tempattinggal, gudang, kantor, art gallery dan akhirnya
menjadi café hingga sekarang. Café Batavia Masuk
kedalam Bangunan Cagar Budaya golongan C, dimana dapat dilakukan program revitalisasi
maupun adaptasi namun arsitektur bangunan tetap dipertahankan.
Pada
1993, bangunan ini dibeli oleh seorang warganegara Australia bernama Graham James,
yang saatinimenetap di Pulau Bali.Hampirsemuaruangan yang terdapat di Cafe
Batavia masihmenggunakanperlengkapanpeninggalan pemiliknya dimasasilam (Margie C., 2010).
Gambar
1.2. Café Batavia
(Sumber: Timetravelturtle.com)
1.
Gedung PT. Jakarta Lloyd
Djakarta
Lloyd didirikan di Tegal pada tanggal 18 Agustus 1950 oleh beberapa anggota TNI
Angkatan Laut yang bercita-cita mendirikan suatu perusahaan pelayaran samudera.Pada
awalnya Djakarta Lloyd memiliki 2 kapal uap yaitu SS Jakarta Raya dan SS
Djatinegara. Kini Djakarta Lloyd melayani jalur samudera dan antar pulau dalam
negeri dan memiliki 14 kapal.
Pada
tahun 1961 berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 108 tahun 1961 status
Perusahaan berubah menjadi Perusahaan Negara dengan nama PN Djakarta Lloyd. Di
era 1990an, PT Djakarta Lloyd tidak lagi mendominasi jalur angkutan laut di
dalam negeri (Djakartalloyd).
Gambar
1.3. PT.
Djakarta Lloyd
(Sumber: Gresnews.com)
1. Dasaad
Musin
Gedung
Dasaad Musin dibangun pada tahun 1857. Gedung yang berlokasi di jalan kunir
kawasan Fatahillah ini dulunya adalah kantor miliki Agus Dasaad Musin,
konglomerat pada jaman itu. Beliau memiliki usaha dibidang perkapalan. Usahanya ditutup saat era Orde Baru
berkuasa. Kondisi gedung ini sudah banyak yang mengalami kerusakan diantaranya
atap yang roboh dan dinding yang keropos. (Huzer
Apriansyah, 2011).
Gambar 1.4. Gedung Dasaad Musin
(Sumber:
Eibidiei.wordpress.com)
1. Kantor
Jasindo
Gedung Jasindo ini terletak di Jalan
Taman Fatahillah No. 2 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta
Barat, Provinsi DKI Jakarta.Gedung
Jasindo adalah bangunan bekas gedung NV West-Java Handel-Maatschappij
(WEVA) atau Kantoorgeouwen West-Java
Handel-Maatschappij, yang dibangun pada tahun 1912. Desain bangunan ini
dilakukan oleh NV Architecten-Ingenieursbureau Hulswit en Fermont te
Weltevreden en Ed. Cupers te Amsterdam.
Gedung ini sekarang dimiliki oleh PT
Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo), namun sudah tidak dipergunakan lagi lantaran
kondisi gedung sudah mengkhawatirkan. Pada bagian atapnya mengalami pelapukan.
Setelah gedung dikosongkan oleh PT Jasindo, gedung tersebut dimanfaatkan untuk
hiburan biliar. Sebagian lagi digunakan untuk berjualan pakaian, rokok, dan
minuman ringan. Kondisi ini menyebabkan bangunan tersebut semakin tidak terurus
dan sangat memprihatinkan karena dibiarkan terbengkelai oleh PT Jasindo tanpa
ada pemeliharaan dan perbaikan (issuu,
2013).
Gambar 1.5. Gedung Jasindo
(Sumber: Skyscrapercity.com)
1. Kantor Pos
Gedung
tua yang terletak di JI. Pos No.2, Jakarta Pusat, dibangun sekitar pertengahan
abad ke-19. Peruntukkannya sebagai Kantor Pos dan dikenal dengan sebutan gedung
PTT (Pos Telegraf dan Telepon). Gedung ini mengalami beberapa kali perubahan
nama. Awalnya bernama "Gedung PTT Pasar Baru", mulai dikenal sejak
zaman penjajahan sampai sekitar tahun 1940-an. Pada masa revolusi fisik berubah
menjadi "Kantor Pos dan Telegraf Pasar Baru", berganti lagi menjadi
"Kantor Pos Kawat Pasar Baru", Sejak tahun 1963 menjadi "Gedung
Pos Ibukota" disingkat GPI atau disebut juga "Kantor Pos Ibukota
Jakarta Raya".
Bangunan
ini dirancang oleh Ir. R. Baumgartner yang bekerja sebagai arsitek pada Bouw
Kundig Bureau pada departemen Van BOW. Secara
fisik bentuk bangunan gedung Kantor Pos dan Giro Pasar Baru menunjukkan
arsitektur Belanda dengan relung serta kaca-kaca berkembang yang menghiasi
bagian depan gedung, bentuknya serupa dengan bangunan stasiun Kereta Api
Jakarta Kota(Jakarta.go.id).
Gambar 1.6.
Gedung Kantor Pos
(Sumber: Sarasvatati.co.id)
1.
Museum Seni Rupa dan Keramik
Gedung
Museum Seni Rupa dan Keramik ini dibangun pada tahun 1870. Sebagai Lembaga
Peradilan tertinggi Belanda (Raad
van Justitie), kemudian pada
masa pendudukan Jepang dan perjuangan kemerdekaan Indonesia gedung ini
dijadikan sebagai asrama militer. Selanjutnya pada tahun 1967 digunakan sebagai
Kantor Walikota Jakarta.
Pada
tahun 1968 hingga 1975 gedung ini pernah digunakan sebagai Kantor Dinas Museum
dan Sejarah DKI Jakarta. Pada tanggal 20 Agustus 1976 diresmikan sebagai Gedung
Balai Seni Rupa oleh Presiden Soeharto. Dan di gedung ini pula terdapat Museum
Keramik yang diresmikan oleh Bapak Ali Sadikin (Gubernur DKI Jakarta) pada
tanggal 10 Juni 1977, kemudian pada tahun 1990 sampai sekarang menjadi Museum
Seni Rupa dan Keramik (Museum Indonesia).
Gambar 1.7. Museum Seni Rupa dan
Keramik
(Sumber:
anythingjakarta.com)
1. Museum
Wayang
Pada awalnya bangunan ini bernama De Oude Hollandsche Kerk ("Gereja Lama Belanda") dan
dibangun pertamakali pada tahun 1640. Tahun 1732 diperbaiki dan berganti nama De Nieuwe Hollandse Kerk (Gereja
Baru Belanda) hingga tahun 1808 akibat
hancur oleh gempa bumi pada tahun yang sama. Di atas tanah bekas reruntuhan
inilah dibangun gedung museum wayang dan diresmikan. pemakaiannya sebagai
museum pada 13 Agustus1975. Meskipun telah dipugar beberapa bagian gereja lama dan baru
masih tampak terlihat dalam bangunan ini(wikipedia).
Gambar 1.8. Museum
Wayang
(Sumber: Wikipedia)
A.
Analisis
Kasus Kota Tua
Konservasi tidak hanya
mempertahankan bentuk ( kebetulan pada kawasan ini bangunan memiliki tipe
konservasi Tipe A yang diharuskan untuk menjaga keaslian bangunan ) tetapi
memelihara serta menumbuhkan atau menghidupkan kegiatan disekitar kawasan tua
atau bersejarah dan salah satunya memvariasikan kegiatan yang satu sama yang
lain sehingga adanya daya tarik untuk pergi ke kawasan tersebut.
Adapun beberapa kegiatan yang ada
disekitar kawasan ini antara lain seperti pedagang kaki lima yang menjajakan
barang atau jasa seperti penyewaan sepeda ontel.
Gambar 1.9. Penyewaan
sepeda ontel
(Sumber: dokumen pribadi)
Untuk
penyewaan sepeda ontel merupakan daya tarik yang sangat kuat karena sudah
jarang sepeda ini dapat dilihat dan disini kita bisa menyewanya untuk
berputar-putar diplaza kawasan ini. Untuk melengkapi kegiatan ada juga beberapa
pedagang kaki lima yang menjajakan makanan, convenience store, juga kafe.
Peta Kawasan Sekitar
Museum Fatahillah
Sumber : Dokumen
pribadi
Tabel
Keterangan Gambar
|
No.
|
Keterangan
|
Gambar
|
|
1.
|
Museum Fatahillah
|
Sumber : Dokumen pribadi
|
|
2.
|
Kafe Kopi Batavia
|
Sumber : Dokumen pribadi
|
|
3.
|
PT. Jakarta Llyod
|
Sumber : Dokumen
pribadi
|
|
4.
|
Dasaad Musin
|
Sumber : Dokumen pribadi
|
|
5.
|
Jasindo
|
Sumber : Dokumen pribadi
|
|
6.
|
Kantor Pos Indonesia
|
Sumber : Dokumen pribadi
|
|
7.
|
Museum Keramik dan Seni
Rupa
|
Sumber : Dokumen pribadi
|
|
8.
|
Museum Wayang
|
Sumber : Dokumen pribadi
|
Sumber
: Dokumen pribadi
D. Analisis Makro
Taman
Fatahillah merupakan pusat kota Batavia pada masa kolonial. Terdapat berbagai
fungsi bangunan didalamnya yang merupakan penunjang utama kegiatan pemerintahan
pada masa itu. Saat ini Fungsi dari bangunan-bangunan sudah mengalami perubahan
fungsi (adaptive re-use) dengan mengadaptasi kebutuhan ruang pada saat ini.
Kawasan
Fatahillah berubah menjadi sebuah sarana rekreasi bagi banyak orang.
Bangunan-bangunan tua terus mengalami perbaikan dari sisi fisik, untuk diangkat
kembali kevitalannya guna menjadi sarana rekreasi kota lama di pusat Ibukota
Jakarta. Segala sisi terus mengalami perbaikan, baik dari area plaza yang
dihias dengan lampu-lampu jalan agar dapat juga difungsikan pada malam hari,
perbaikan perkerasan, perbaikan dan perawatan fisik bangunan, dan peningkatan
fasilitas penunjang kegiatan didalamya.
1.
Museum
Fatahillah
Bangunan
yang tadinya merupakan balai kota Batavia VOC tersebut bentuknya masihlah
terjaga dari dahulu zaman penjajahan Belanda hingga saat ini. Keaslian bentuk
bangunannya masih terlihat jelasa dan terjaga baik. Beberapa kali sempat
dilakukan kegiatan konservasi terhadap bangunan tersebut mulai dari perbaikan
bagian bangunan hingga pengecatan rutin pada fasade bangunan.
|
No.
|
Keterangan
|
Gambar
|
|
1
2
3
4
5
|
Kondisi
Bangunan Museum Fatahillah
Arsitektur
museum Fatahillah bergaya arsitektur Neo-Klasik dengan cat berwarna kuning
tanah, kusen pintu dan jendela yang terbuat dari kayu jati berwarna hijau
tua, selain itu pada bagian atap terdapatpenunjuk arah mata angin yang mencirikan
bangunan-bangunan era kolonial.
Jenis ornament yang ada pada bangunan merupakan gaya klasik Kolonial Belanda yang sesuai dengan zamannya dimasa itu.Museum ini memiliki luas lebih dari 1.300 meter persegi dengan bentuk persegi panjang. Pekarangan terdiri dari susunan konblok yang berfungsi sebagai plaza berkumpul. Sebelumnya Plaza Fatahillah memiliki cukup banyak vegetasi pepohonan rindang namun saat ini plaza Fatahillah terasa begitu gersang dan panas dengan minimnya penghijauan. Pilar-pilar tinggi menghiasi dan menandakan letak pintu masuk pada museum Fatahillah, yang mana menjadi gerbang utama untuk masuk kedalam museum. Pilar berwarna putih dan bergaya arsitektur kolonial.
Jendela
dan Pintu
Jendela
dan Pintu terbuat dari kayu jati yang dicat berwarna hijau. Warnanya cukup
kontras dengan warna bangunan yang berwarna putih. Beberapa kali dilakukan
pemugaran karena terjadinya pelapukan kayu pada jendela dan pintu bangunan.
Atap Bangunan
Atap bangunan memiliki bentukan atap tropis, yang mana mengadaptasi
dari iklim Indonesia yang beriklim tropis. Atap memiliki tritisan yang cukup
lebar untuk merespon Iklim dan memberikan gaya baru pada bangunan kolonial.
Fungsi
Bangunan
Fungsi Bangunan untuk fungsi awal dan sekarang memiliki fungsi yang
berbeda. Untuk periode sebelumnya bangunan berfungsi sebagai balai kota Batavia
(VOC) dan untuk saat ini bangunan berfungsi sebagai museum, yang mana
memiliki layout ruang baru dari fungsi sebelumnya. Museum menampilkan
peninggalan pada masa kolonial baik ari foto maupu gambaran suasana pada masa
itu.
Zona
Penunjang dan Parkir
Museum
Fatahillah dirasa masih kekurangan ruang parkir dibandingkan dengan jumlah
pengunjung yang datang, seringkali area parkir memenuhi trotoar khusus
pejalan kaki.
|
Sumber : Dokumen Pribadi
Sumber : http://1.bp.blogspot.com
Sumber : Dokumen Pribadi
Sumber : Dokumen Pribadi
Sumber : Google.com
|
Kesimpulan
Bangunan
masih memiliki bentuk bangunan yang sama dengan bentuk bangunan aslinya. Hanya
saja terkadang diperlukan perawatan terhadap beberapa unsur bangunan yang rusak
dimakan usia tetapi tetap memepertahankan bentuk aslinya. Perbedaan hanya
terdapat pada fungsi bangunan yang tadinya berfungsi sebagai balai kota Batavia
dan sekarang berubah menjadi fungsi Museum Batavia.
Fatahillah Dulu
Fatahillah
Sekarang
Sumber:
Data Pribadi
1.
Cafe
Batavia
Cafe Batavia adalah
sebuah kafe yang berada di daerah Kota Tua, bereksterior antik dengan
arsitektur khas peninggalan zaman kolonial Belanda. Cafe Batavia menawarkan
keindahan interior unik. Konsep yang ditawarkan Cafe Batavia ini sangatlah
menarik karena mengangkat temamasa lalu Jakarta yang akan membuat pengunjung
mengenang masa lalunya di Cafe Batavia ini. Interior yang mendukung tentu saja
akan semakin membuat pengunjung betah untuk berlama-lama di cafe tersebut untuk
mengenang masa lalunya.
|
No
|
Keterangan
|
Gambar
|
|
1.
|
Atap
Atap menggunakan atap perisai, tidak mengubah arsitektur bangunan
|
|
|
2.
|
Jendela
Jendela pada Café Batavia masih menggunakan desain peninggalan jendela Belanda. Pada bagian jendela dan pintu lantai satu sudah mendapat sentuhan modern dan ditambah kan berupa Canopy bertuliskan “Café Batavia”
|
Sumber : Dokumen Pribadi
Sumber : Dokumen Pribadi
|
3.
|
Vegetasi
Pada Café Batavia terdapat vegetasi berupa tanaman pot yang disusun untuk membatasi antara café dengan lingkungan luar.
|
|
3. Jakarta Lloyd
|
No
|
KETERANGAN
|
GAMBAR
|
||||
|
1.
|
JENDELA
(terdapat 4 jenis jendela
pada bangunan Lloyd Djakarta)
|
|
||||
|
2.
|
PINTU
(terdapat 2 jenis pintu yang
berbeda )
|
|
||||
|
3.
|
DINDING
|
|||||
1.
Dasaad
Musin
Gedung ini terletak di kawasan kota tua
Jakarta lebih tepatnya bersebelahan dengan gedung Jasindo. Bangunan dibangun
sekitar 1920 dan berfungsi sebagai Rumah Tinggal. Gaya bangunan Gedung ini
adalah neoklasik. Kondisi Gedung ini makin lama makin memperihatinkan karena
keadaannya yang sudah rusak disana-sini sehingga tidak bisa difungsikan lagi.
Gedung ini akan direstorasi dimana akan
dikembalian ke dalam bentuk aslinya dan difungsikan sebagai ruang publik
nantinya. Rencananya bangunan berlantai 3 itu akan dibuat kafe pada lantai satu
dan perkantoran di lantai 2 dan 3. Adapun kesulitan dalam mencari data karena
kepemilikan yang bergati-ganti diamana tahun 1946-1958 untuk kepemilikan atas
nama Dassaad Mussin Concern dan sekarang kepemilikan ada di tangan Wahidin
Saleh.[1]
Saat ini Gedung Dasaad Musin Concern yang sekarang dalam proses restorasi bisa
dilihat dari gambar berikut.
Gedung
Dasaad Musin Concern yang sedang di Restorasi
Sumber
: Dokumen pribadi
Untuk
Kegiatan Bangunan sekitar Gedung Dasaad
Musin Concern yang telah berubah menjadi ruang publik kebanyakan dibuat kafe,
museum, serta toilet umum dan musholla. Lalu dikawasan tersebut terdapat juga
penyewaan sepeda ontel yang berwarna- warni. Sirkulasi pejalan kaki di kanan
kirinya juga terdapat pedagang kaki lima yang menjual barang maupun jasa.
Keadaaan pengunjung memang jauh berbeda antara hari libur dan hari biasa.
Dimana hari biasa pengunjung tidak terlalu banyak dan dapat menikmati kawasan
sekitar Museum Fatahillah tersebut tetapi jika pada hari libur keadaannya
sangat ramai.
Untuk itu jika ingin dijadikan rental office dirasa tidak masalah
karena keadaan yang tidak terlalu ramai saat bukan hari libur sehingga tidak
mengganggu kegiatan satu sama lain. Malah memberikan pengunjung tambahan jika
bukan hari libur walaupun penambahannya tidak banyak. Untuk Membuka kafe dirasa
cocok untuk menunjang para penyewa rental office. Selanjutnya untuk parkir,
karena tidak ramai untuk hari biasa bisa dijadikan alasan mengapa tidak apa-apa
jika dibuat fungsi sebagai rental office. Juga tempat yang strategis di pinggir
jalan raya.
Pengembalian bentuk bangunan ke
wajah aslinya memang sulit dan butuh kejelian dalam pendataan sehingga akurat
atau benar-benar sepeti aslinya apalagi jika keadaan bangunan yang sudah rusak.
Untuk itu berikut gambar gambar detail bangunan dari gedung Gedung Dasaad Musin
Concern yang belum direstorasi.
|
No.
|
Keterangan
|
Gambar
|
|
1
|
Jendela
Terdapat beberapa tipe
jendela yang ada disana
|
Sumber : https://eibidiei.wordpress.com/2013/10/15/gedung-dasaad-musin-concern/
Sumber : Dokumen pribadi
|
|
2
|
Pintu
|
Sumber : https://eibidiei.wordpress.com/2013/10/15/gedung-dasaad-musin-concern/
|
|
3
|
Dinding
|
Sumber : https://eibidiei.wordpress.com/2013/10/15/gedung-dasaad-musin-concern/
|
|
Dulu
|
Sekarang
|
|
Sumber : https://eibidiei.wordpress.com/2013/10/15/gedung-dasaad-musin-concern/
|
Sumber : Dokumen pribadi (2016 )
|
Gedung Dasaaad musin yang sejauh
ini direstorasi mengikuti bentuk aslinya
walaupun luarnya saja. diharapkan sampai jenis jendela mengadaptasi yang lama.
Juga fungsi baru yang ingin dibentuk yaitu sebagai rental office dan kafe dirasa cocok karena tempaknya strategis
dipinggir jalan dan lahan parkir yang memadai.
1.
Kantor
Jasindo
Gedung
Jasindo adalah bangunan bekas gedung NV West-Java Handel-Maatschappij (WEVA) atau Kantoorgeouwen West-Java Handel-Maatschappij,
yang dibangun pada tahun 1912. Desain bangunan ini dilakukan oleh NV
Architecten-Ingenieursbureau Hulswit en Fermont te Weltevreden en Ed. Cupers te
Amsterdam.
Gedung ini sekarang dimiliki oleh PT
Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo), namun sudah tidak dipergunakan lagi lantaran
kondisi gedung sudah mengkhawatirkan. Pada bagian atapnya mengalami pelapukan.
Setelah gedung dikosongkan oleh PT Jasindo, gedung tersebut dimanfaatkan untuk
hiburan biliar. Sebagian lagi digunakan untuk berjualan pakaian, rokok, dan
minuman ringan. Kondisi ini menyebabkan bangunan tersebut semakin tidak terurus
dan sangat memprihatinkan karena dibiarkan terbengkelai oleh PT Jasindo tanpa
ada pemeliharaan dan perbaikan.
|
No.
|
Keterangan
|
Gambar
|
|
1.
|
Jendela (terdapat beberapa
bentuk jendela pada bangunan
Gedung Jasindo) |
|
|
2.
|
Pola Fasad (Bangunan ini
menggunakan bentuk fasad dengan pola simetris. Dimana ketika dipotong pada
bagian tengah bangunan, akan menghasilkan pola bentuk yang sama antara kedua
sisinya)
|
|
|
3.
|
Ornamen (Terdapat beberapa
ornamen yang menghiasi bangunan Gedung jasindo ini)
|
|
|
4.
|
Atap (Pada bagian atap
menggunakan plafond yang berpola persegi yang menggunakan ornamen dengan
jarak yang sama.
|
1.
Kantor
POS Indonesia
Bangunan
ini dirancang oleh Ir. R. Baumgartner yang bekerja sebagai arsitek pada Bouw
Kundig Bureau pada departemen Van BOW. Gedung yang sejak awal memang dirancang
sewbagai kantor pos ini dibangun pada tahun 1928.Bangunan didominasi adanya
lubang-lubang jendela vertikal mengimbangi bangunan yang “horizontal” melebar.
Ketinggian langit-langit yang relatif tinggi memungkinkan penghawaan alamiah
sehingga mendukung kenyamanan bangunan.Secara
fisik bentuk bangunan gedung Kantor Pos dan Giro Pasar Baru menunjukkan
arsitektur Belanda dengan relung serta kaca-kaca berkembang yang menghiasi
bagian depan gedung, bentuknya mirip bangunan stasiun Kereta Api Jakarta
Kota.Atap terbuat dari seng dengan tiang-tiang besi pipih sebagai penyangga.
|
No.
|
Keterangan
|
Gambar
|
|
1.
|
Jendela
|
sumber: kotatuaku.com
|
|
|
Bangunan
didominasi adanya lubang-lubang jendela vertikal mengimbangi bangunan yang
“horizontal” melebar.
|
|
|
2.
|
Atap
|
|
|
|
Atap terbuat dari seng
dengan tiang-tiang besi pipih sebagai penyangga.
|
|
|
3.
|
Interior
|
sumber: www. nenogram.com
|
|
|
Dirancang
oleh arsitek JF Hoytema dengan gaya arsitektur Art Deco, yang dipengaruhi
oleh aliran Art and Craft pada detail interiornya
|
|
|
4.
|
Fasade
|
sumber: kotatuaku.com
|
Kantor POS dulu dan
sekarang
1.
Museum
Seni Rupa dan Keramik
Gedung Museum Seni Rupa dan Keramik
dengan luas bangunan ±2430m² dan dibangun diatas tanah seluas + 8875 m². Museum ini memiliki gaya arsitektur
Eropa Empire. Ciri khas gaya
arsitektur ini pada umumnya bagian atas depan berbentuk segitiga yang
menggambarkan Crown atau Mahkota Raja, sedang bagian teras depan ditopang tiang
pilar atau Doric (doria). Tiang-tiang pilar seperti ini juga dijumpai pada
bangunan dari jaman Mesir Kuno sebagai simbol atau penggambaran dari pasukan
tentara yang mendukung kekuatan dan kokohnya kerajaan. Gedung museum Seni Rupa dan Keramik
dirancang oleh Jhr. W H.F.H. Raders. Berikut gaya arsitektur Eropa yang
diaplikasikan pada bangunan Museum Seni Rupa dan Keramik.
E. Kesimpulan
Bangunan
pada kawasan Taman Fatahillah masih sama dalam bentuk fisik dengan bentuk
aslinya. Terdapat berbagai macam fungsi bangunan baik yang terawat dengan baik
maupun sedang memasuki tahap pemugaran. Perbedaan terdapat hanya pada fungsi
bangunan yang mengubah fungsi aslinya menjadi fungsi yang diperlukan saat ini.
Pengembangan juga terdapat pada penambahan street furniture, penerangan maupun
fasilitas penunjang lainnya. Kawasan Taman Fatahillah diarahkan kepada fungsi
kawasan wisata kota tua peninggalan masa kolonial, dan kekhasan bentuk bangunan
(bentuk asli) dijadikan sebagai daya tarik wisata sejarah di Ibukota.
























































