Minggu, 22 Februari 2015

PENGARUH ARSITEKTUR TERHADAP MASYARAKAT DAN LINGKUNGAN SEKITAR

PENGARUH ARSITEKTUR TERHADAP MASYARAKAT DAN LINGKUNGAN SEKITAR


Konstruksi bangunan dan pengoperasian memiliki dampak langsung dan tidak langsung yang luas pada lingkungan. Bangunan menggunakan sumber daya seperti energi, air dan bahan baku, menghasilkan limbah (penghuni, konstruksi dan pembongkaran) dan memancarkan emisi atmosfer yang berpotensi membahayakan. pemilik Bangunan, perancang dan pembangun menghadapi tantangan yang unik untuk memenuhi kebutuhan untuk fasilitas baru dan direnovasi yang dapat diakses, aman, sehat, dan produktif sambil meminimalkan dampak terhadap lingkungan.

Membuat bangunan berkelanjutan dimulai dengan pemilihan lokasi yang tepat, termasuk pertimbangan penggunaan kembali atau rehabilitasi bangunan yang ada. Lokasi, orientasi, dan lansekap sebuah bangunan mempengaruhi ekosistem lokal, metode transportasi, dan penggunaan energi. Memasukkan prinsip-prinsip pertumbuhan Smart dalam proses pembangunan proyek, apakah itu sebuah gedung, kampus atau pangkalan militer. Penempatan untuk keamanan fisik merupakan isu penting dalam mengoptimalkan desain situs, termasuk lokasi jalan akses, parkir, hambatan kendaraan, dan lampu perimeter. Apakah merancang sebuah bangunan baru atau retrofitting sebuah bangunan yang ada, desain situs harus mengintegrasikan dengan desain yang berkelanjutan untuk mencapai suatu proyek yang sukses.

PEMANFAATAN RUANG

PEMANFAATAN  RUANG

Lokasi : Kediaman Bpk.Warham, Jl.Raya Keadilan, Gg.H.Kimah, RT:04/RW:01, No.7, Rangkapan Jaya Baru, Pancoran Mas, Depok
ANALISA SITE :
Luas Lahan : 170 cm²
Luas Bangunan :160 cm²

ANALISA RUANG :
Ruang-Ruang :
1 Kamar Tidur Utama
3 Kamar Tidur Anak
3 Kamar Mandi
1 Ruang Keluarga
1 Ruang Tamu
1 Ruang Ibadah
1 Ruang Makan
1 Dapur
1 Ruang Cuci Jemur

PENGHUNI :
5 Orang
No
Anggota Keluarga
Kegiatan
1
Ayah
(Warham Jabbar, 53 Thn, Wiraswasta)
Tidur
Makan
Mandi
Bekerja
2
Ibu
(Solimah, 39 Thn, Ibu Rumah Tangga)
Tidur
Makan
Mandi
Memasak
3
Anak
(Avizahra Jabbar, 19 Thn, Mahasiswi)
Tidur
Makan
Mandi
Belajar
Kuliah
4
Anak
(Agavriel Jabbar, 17 Thn, Pelajar)
Tidur
Makan
Mandi
Belajar
Sekolah
5
Anak
(Ivarra Mutti Jabbar, 8 Thn, Pelajar)
Tidur
Makan
Mandi
Belajar
Sekolah

PERMASALAHAN : PEMANFAATAN RUANG YG KURANG MAKSIMAL
Pemanfaatan Ruang yg kurang dimaksimalkan di dalam rumah, adanya ruang ruang yg tidak terpakai, atau juga ruang yg berubah fungsinya dari tujuan awalnya
CONTOH :
1.       Ruang di bawah tangga
Ruang ini sebagai ruang kosong yg seharusnya hanya terdapat barang barang seperti tempat menaruh botol gas untuk memasak agar tidak menghalangi jalan, tetapi di ruang ini banyak terdapat barang barang lain seperti bangku, plastik plastik, ini menandakan pemanfaatan ruang yg belum sesuai fungsinya

2.       Ruang Ibadah
Ruang ini seharusnya hanya untuk tempat iberibada saja, tp di belakangnya banyak terdapat barang barang seperti karpet serta tikar, serta barang barang lainnya

3.       Ruangan atas
Pada Ruang ini terdapat Ruang cuci jemur, terdapat juga kamar yg berubah fungsi menjadi gudang, padahal tadinya kamar ini dioptimalkan menjadi kamar tidur untuk karyawan tetapi semenjak karyawan sudah pindah akhirnya menjadi ruangan yg menjadi tempat menaruh barang barang tidak terpakai

SOLUSI :

Solusi yg diperlukan untuk permasalahan diatas yaitu pengurangan perabotan rumah tangga terutama baraang barang yg tidak terpakai sebaiknya disingkirkan agar pemanfaatan ruang dapat optimal dengan tidak banyaknya barang barang tidak terpakai

HAL-HAL YANG DAPAT MENJADI SOLUSI DALAM PEKERJAAN ARSITEKTUR

HAL-HAL YG DAPAT MENJADI SOLUSI DALAM PEKERJAAN ARSITEKTUR

Gunakan Optimalkan Energi
Dengan pasokan Amerika bahan bakar fosil berkurang, kekhawatiran untuk kemerdekaan energi dan meningkatkan keamanan, dan dampak dari perubahan iklim global yang timbul, adalah penting untuk mencari cara untuk mengurangi beban, meningkatkan efisiensi, dan memanfaatkan sumber daya energi terbarukan di fasilitas federal.

Melindungi dan Menghemat Air
Di banyak negara, air bersih merupakan sumber semakin langka. Sebuah bangunan yang berkelanjutan harus mengurangi, kontrol, dan / atau mengobati limpasan situs, penggunaan air secara efisien, dan penggunaan kembali atau daur ulang air untuk digunakan di tempat, jika memungkinkan.

Lebih baik Gunakan Produk Lingkungan
Sebuah bangunan yang berkelanjutan adalah dibuat dari bahan yang meminimalkan dampak siklus kehidupan lingkungan seperti pemanasan global, penipisan sumber daya, dan toksisitas manusia. Lingkungan bahan disukai memiliki efek mengurangi terhadap kesehatan manusia dan lingkungan dan berkontribusi untuk meningkatkan keselamatan pekerja dan kesehatan, kewajiban mengurangi, biaya pembuangan dikurangi, dan pencapaian tujuan lingkungan.

Meningkatkan Kualitas Lingkungan Indoor (IEQ)
Kualitas lingkungan indoor (IEQ) dari sebuah bangunan memiliki dampak signifikan pada kesehatan penghuni, kenyamanan, dan produktivitas. Di antara atribut lain, sebuah bangunan yang berkelanjutan memaksimalkan pencahayaan; memiliki ventilasi yang tepat dan kontrol kelembaban, dan menghindari penggunaan bahan-bahan dengan emisi tinggi VOC. Selain itu, pertimbangkan ventilasi dan penyaringan untuk mengurangi kimia, biologi, dan serangan radiologi.

Operasional dan Pemeliharaan Praktek Optimalkan
Mengingat operasi bangunan dan isu pemeliharaan selama tahap desain awal fasilitas akan memberikan kontribusi untuk lingkungan kerja yang baik, produktivitas yang lebih tinggi, energi dan biaya sumber daya, dan mencegah kegagalan sistem. Mendorong bangunan operator dan personil perawatan untuk berpartisipasi dalam tahap desain dan pengembangan untuk menjamin operasi yang optimal dan pemeliharaan gedung. Desainer dapat menentukan bahan dan sistem yang mempermudah dan mengurangi kebutuhan perawatan; membutuhkan air lebih sedikit, energi, dan bahan kimia beracun dan pembersih untuk menjaga, dan biaya-efektif dan mengurangi biaya hidup-siklus. Selain itu, fasilitas desain untuk menyertakan meter untuk melacak kemajuan inisiatif keberlanjutan, termasuk penurunan penggunaan energi dan air dan limbah, dalam fasilitas tersebut dan di situs.

DAMPAK POSITIF DAN NEGATIF BANGUNAN DI INDONESIA TERHADAP LINGKUNGAN SEKITAR

DAMPAK POTISIF DAN NEGATIF BANGUNAN DI INDONESIA TERHADAP LINGKUNGAN SEKITAR

Bangunan –bangunan di sepanjang Jl. Gatot Subroto, Jl. S.Parman, Jl. Suprapto, Jl. Harsono RM, Jl. Ahmad Yani, Jl. Casablanca, Kawasan Kuningan, dan seterusnya, seperti Plaza Semanggi, Grand Indonesia, Sampoerna Square, Senayan City, CBIC, juga tumbuh bangunan baru pencakar langit, yang sudah pasti mengundang bangkitan lalu lintas cukup tinggi. Bahkan di tepi-tepi jalan di luar jalan protokol pun tumbuh bangunan baru yang berfungsi komersial, seperti usaha perdagangan, rumah sakit, perkantoran, atau sekolah.

Dampak positif
Pembangunan gedung-gedung pencakar langit di Jakarta atau tempat-tempat komersial di kota-kota lain itu, di satu sisi menunjukkan adanya pertumbuhan ekonomi, bukti bahwa sector riil terus bergerak.

Dampak negatif
·         Tapi realitas empirisnya, ternyata kawasan baru yang diberi julukan kota mandiri tersebut tidak mampu menunjukkan kemandiriannya. Kawasan tersebut menjadi kawasan hunian yang nyaman, tapi ketergantungan terhadap Kota Jakarta tidak dapat dilepaskan. Pada pagi hari warga ”kota mandiri” itu berduyun-duyun menuju Jakarta, sedangkan pada sore hingga malam hari mereka kembali berduyun-duyun meninggalkan Kota Jakarta. Akibatnya, keberadaan kawasan baru yang dimaksudkan sebagai ”Kota Mandiri” itu justru menambah deret kemacetan menuju Kota Jakarta.
Boleh jadi, pembangunan gedung-gedung baru pencakar langit di Kota Jakarta itu sebagai bentuk respon kegagalan pembangunan kota mandiri yang tidak betul-betul mandiri.

·         Kehadiran bangunan-bangunan baru pencakar langit itu makin menambah padat Kota Jakarta, yang selama ini sudah dipenuhi oleh tempat-tempat perbelanjaan. Berdasarkan data Biro Perekonomian DKI Jakarta, di DKI Jakarta saat ini ada sekitar 364 pusat perbelanjaan, baik yang berupa mall, toserba, pertokoan, dan lainnya yang tersebar di lima wilayah: Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Timur, dan Jakarta Utara
·         Boleh jadi di antara bangunan-bangunan komersial atau gedung-gedung baru pencakar langit tersebut tidak sesuai dengan master plan Kota Jakarta. Kontroversi lapangan sepakbola Persija di Menteng yang diubah menjadi lahan parkir dan taman misalnya, dapat menjadi contoh bagaimana master plan Kota Jakarta tidak selalu ditaati, termasuk oleh Pemda DKI Jakarta sendiri. Untuk membenarkan tindakannya itu Pemda selalu melakukan revisi terhadap master plan yang ada, sehingga kalau melihat master plan yang ada dikaitkan dengan kondisi yang ada, seakan sesuai. Tapi bila kita lihat master plan sepuluh tahun yang lalu, maka kondisi yang ada sekarang banyak yang menyalahi master plan.


·         Perubahan-perubahan itu tidak otomatis disertai dengan analisis dampak lalu lintas (Amdalalin), sehingga kemudian melahirkan problem baru berupa kemacetan, seperti yang tampak jelas terjadi di depan Plaza Semanggi. Arus lalu lintas dari arah Jl. Suparman dan Jl. Sudirman yang mengarah ke Jl. Gatot Subroto terhambat oleh banyaknya kendaraan yang masuk ke Plaza Semanggi. Pada saat yang sama, karena plaza tersebut memiliki potensi penumpang yang cukup signifikan, angkutan umum banyak yang ngetem di sana. Beruntung, pihak managemen Plaza Semanggi telah melakukan perbaikan pintu masuk melalui belakang, sehingga tingkat kemacetan atau ketertundaan di depan plaza dapat berkurang.Kondisi yang sama akan terjadi di depan Grand Indonesia (dulu Hotel HI) bila seluruh bangunan di kawasan tersebut sudah dioperasikan. Banyaknya mobil pribadi yang keluar masuk kawasan tersebut (hotel dan perbelanjaan) secara otomatis akan melahirkan bangkitan baru. Apalagi di seberangnya juga terdapat bangunan komersial baru yang akan melahirkan bangkitan lalu lintas pula. Keberadaan kedua bangunan komersial tersebut akan membuat sesak lalu lintas di sekitar bundaran HI yang akan berdampak panjang. Dari selatan sampai Blok M, sedangkan dari arah utara dampaknya sampai Kota Tua.

ARTI PENTING RUANG TERBUKA HIJAU

ARTI PENTING RUANG TERBUKA HIJAU

RTH menurut UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang adalah area memanjang atau jalur dan atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka sebagai tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah ataupun sengaja ditanam. Keberadaan Ruang Terbuka Hijau merupakan salah satu unsur penting dalam membentuk lingkungan kota yang nyaman dan sehat. Menurut Chafid Fandeli (2004) RTH Kota merupakan bagian dari penataan ruang perkotaan yang berfungsi sebagai kawasan lindung. Kawasan hijau kota terdiri atas pertamanan kota, kawaan hijau hutan kota, kawasan hijau rekreasi kota, kawasan hijau kegiatan olah raga, kawasan hijau pekarangan. RTH diklasifikasikan berdasarkan status kawasan, bukan berdasarkan bentuk dan struktur vegetasinya.
RTH bertujuan untuk menjaga ketersediaan lahan sebagai kawasan resapan air. Dilihat dari aspek planologis perkotaan RTH diharapkan dapat menjaga keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan binaan yang berguna untuk kepentingan masyarakat. Keberadaan RTH memberikan keserasian lingkungan perkotaan sebagai sarana pengaman lingkungan perkotaan yang aman, nyaman, segar, indah, dan bersih.
RTH sebagai ruang interaksi publik
Banyak fungsi yang dapat diberikan RTH baik ekologis, sosial budaya maupun estetika yang memberikan kenyamanan dan memperindah lingkungan kota baik dari skala mikro maupun makro. Manfaat yang diperoleh dari keberadaan RTH baik manfaat langsung maupun manfaat tidak langsung dalam jangka panjang dan bersifat intangible.

RTH selain sebagai kawasan lindung juga berfungsi sosial sebagai open public space untuk tempat berinteraksi sosial dalam masyarakat seperti tempat rekreasi, sarana olahraga dan atau area bermain. RTH ini harus memiliki aksesibilitas yang baik untuk semua orang, termasuk aksesibilitas bagi penyandang cacat. 

ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN YANG MANUSIAWI

ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN YANG MANUSIAWI

Koentjaraningrat (1983), “memayu-hayuning bhawana” Masyarakat Jawa merasa berkewajiban untuk selalu berupaya menjaga dan memperindah lingkungannya , baik fisik maupun spiritualnya, baik yang menyangkut pada adat, tata cara, cita-cita, ataupun nilai-nilai budaya lainnya.
Ketika arsitek bergerak dalam penataan lingkungan  tentunya memahami karakteristik secara fisik dan non fisik pada lahan sebelum dibangun, masalah ini semata untuk menjawab konsumen, seringkali tidak memikirkan pada dampak selanjutnnya. Memang pembangunan pada hakekatnya merupakan serangkaian upaya yang terarah untuk meningkatkan nilai tambah, tetapi sekarang berorientasi pada  ekonomi semata.
Pembangunan tidak sekedar menjadi tanggungjawab pemerintah setempat tetapi bagaimana peran arsitek sebagai perencana dan pengembang mampu berfikir bijak untuk merencanakan lingkungan yang baik agar tercipta iklim yang sehat bagi masyarakatnya. Dengan demikian masyarakat  bukan semata-mata sebagai obyek eksploitasi ekonomi pembangunan, tetapi merupakan subyek yang berperan aktif dalam menjaga dampak lingkungan pasca pembangunan.
Peranan masyarakat setempat akan dapat berlangsung dengan cara yang jauh lebih baik bila sejak awal terlibat musyawarah dengan perencana sebelum pembangunan dimulai, agar hasilnya sesuai dengan kebutuhan kondisi sosial-budaya masyarakat yang telah terbentuk sebelumnya sehingga tidak terjadi kesenjangan di kemudian hari. Kenyataan akhir-akhir ini di kota Malang selalu muncul masalah sengaja atau tidak yang sebenarnya tidak perlu terjadi sebelumnya, tetapi mengapa hasil akhirnya selalu menjadi contoh yang tidak baik.
Jika tidak mampu menyelesaikan akhirnya pengembang melarikan dari tanggungjawab sementara waktu kebutuhan konsumen tidak dipersiapkan secara matang yang penting ada keuntungan, tuntutan pemilik rumah tinggal pasca pembangunan pada pengembang ternyata hanya manis di awal promo, akhir racun yang dirasakan  bagi penghuni, justru dampaknya terhadap lingkungan setempat.
Mampukah masyarakat setempat menuntut kepada pengembang?, sementara waktu pengembang tersebut sudah berganti nama bahkan bubar secara hukum atau membubarkan diri yang terjadi karena telah mendapatkan keuntungan?, sedangkan kantornya telah habis masa kontraknya, bisa jadi tinggal papan nama!.
Masih menjadi topik menarikkah dibumi Indonesia tercinta ini, selalu tercabik-cabik dengan prilaku manusia yang memanfaatkan birokrasi berbelit. Peluang kesulitan berubah kemudahan jika ada uang yang berbicara karena selalu berfikir keuntungan materi tanpa melihat ketentraman yang tercipta hubungan antar manusia yang bermoral dan bermartabat, haruskah kita selalu menjauhkan nilai-nilai kemanusiaan dibanding nilai materi?.
Permasalahan dan kasus yang terjadi pada tersebut diatas tentunya sedini mungkin harus diselesaikan dengan langkah yang baik dan menjadi pelajaran yang cerdas pula agar menekan seminimal mungkin terjadi kesenjangan. Masyarakat dan pengembang seharusnya  mampu menjadi  teladan agar tidak terulang dengan kejadian pada kasus tersebut diatas.
Seringkali wujud arsitektur yang dirancang pada suatu tempat, waktu dan kebutuhan tidak sesuai prinsip-prinsip keseimbangan alam dan lingkungan masyarakatnya. Fenomena semacam ini diharapkan arsitek mampu berkomunikasi, tidak hanya mudah menggores pensil dengan perangkatnya tetapi mampu menghasilkan konsep dasar komunikatif sebagai patokan disain.
Selama kehidupan manusia masih berlangsung maka arsitektur-pun ada dalam proses perkembangannya. Hal tersebut sangat ditunjang oleh salah satu faktor yang memegang peranan penting yaitu cara mempresentasikan gambar-gambar arsitektur yang akrab dengan lingkungannya.
Bagi seorang arsitek merupakan hal yang mutlak dikuasai untuk dapat menggambarkan idea, gagasan atau imajinasinya tentang bangunan yang direncanakan. Bilamana arsitek yang bersangkutan tidak tanggap dan peka terhadap kondisi lingkungan alam, maka wujud arsitektur dengan elemen perangkat di dalamnya akan tidak berfungsi secara baik.
Pola keselarasan antara bangunan dengan lingkungannya termasuk juga dalam sistem ekologi dan infrastrukturnya. Dituntut lebih teliti terhadap proses dari tahap awal berupa analisa konsep hingga menjadi wujud akhir yang tentunya dapat memenuhi keinginan dari masyarakat sebagai pemilik dan pemakai. Kebanyakan masyarakat adalah pemikir secara verbal, sedangkan wujud akhir arsitektur yang ada selalu menggunakan bahasa visual.
Pertumbuhan arsitektur tidak dapat disamakan dengan kehidupan manusia dari mulai lahir hingga meninggal dan tidak begitu saja melahirkan ide tertentu, walaupun arsitektur sendiri menyangkut berbagai aspek kehidupan manusia, tetapi lebih merupakan suatu proses dalam jangka waktu tertentu untuk menghasilkan ide-ide yang terbaik.
Manusia sebagai pemakai mempunyai kebutuhan-kebutuhan bioligis, dan kepribadian, serta sifat-sifat dasar yang diekspresikan dalam lingkungannya, hal ini dikarenakan antara lingkungan dan prilaku manusia terdapat hubungan erat. Pada lingkungan yang baik tentunya akan menghasilkan prilaku yang baik pula, demikian sebaliknya. Hal ini menjadi sebab bahwa suatu lingkungan buatan harus dirancang sebaik mungkin, sehingga dapat diharapkan untuk memberikan rasa aman dan nyaman pada pemiliknya.
Sebab arsitektur pada dasarnya tidak sekedar berbicara teknis, yang pada hakekatnya bertujuan sosial, tetapi seringkali dinyatakan tanpa kompromi dengan masyarakatnya.
Bagaimanapun banyak bangunan disekitar kita yang gagal secara fungsional, sehingga akibatnya kelangsungan hidup manusia tidak tercapai secara optimal, dan terganggunya fungsi-fungsi alam dalam kesinambungan yang dinamis. Profesionalisme arsitek dituntut untuk memikirkan lebih pada tata lingkungan yang sama sekali berbeda dengan yang dilakukan sebagian besar orang.
Hasil akhir arsitekturnya secara tidak sadar sebenarnya bukan milik pribadi pemberi tugas atau bahkan monopoli si arsitek, tetapi menjadi milik masyarakat untuk berhak menikmati sebagai karya setempat bukan asal fotokopi dari proyek satu ke proyek yang baru, sehingga penjabaran dan perwujudan akan tata nilai sosial budaya dan ekonomis melibatkan semua pihak.
Presentasi yang baik akan selalu dapat memperlihatkan secara langsung fungsi dan dimensi yang dimaksudkan. Sebagai bahasa arsitektur mampu menjawab dengan melalui gambar sebagai wujud komunikasi, sehingga peran dan tanggung jawab arsitek sebenarnya tidak semata berbicara teknis, tetapi sangat peduli terhadap masalah-masalah sosial, budaya, ekonomi, psikologi dan lingkungan hidup yang di tampilkan pada wujud estetika.

Diharapkan kepada pemberi tugas dan masyarakat pengguna lebih memahami proses yang selalu dilakukan arsitek, keterlibatan dalam hal kritik dan saran tentunya lebih baik karena belum tentu kemampuan arsitek dapat menjawab semua masalah yang terkait pada hasil rancangan. Arsitek tidak ingin karya rancangan untuk diri sendiri dengan keangkuhannya. Arsitek tidak berharap puas karena imbalan jasa yang lebih jika karyanya justru menyesatkan lingkungan sekitar yang sengaja menghilangkan ciri khas jatidiri lokal yang hampir dan sudah dilupakan

JARINGAN UTILITAS SEKOLAH

ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN
IDENTIFIKASI BANGUNAN SEKOLAH










KELAS 2TB01
KELOMPOK 1
NAMA ANGGOTA KELOMPOK :
·         Adi Kurnia Sulistyana                      20313186
·         Ahlal Jannata Firdausi                     20313391
·         Amalia Ekasanti                                 20313756
·         Angga Adi Santika                            20313980
·         Annisa Farrasyifa Ghama              21313129
·         Aufi Zaha Yuniar                               21313494
·         Avizahra Jabbar                                                21312264             3TB01
·         Azis Supratman                                 21313566
·         Cipta Novia Larasati                         21313934
·         Desry Nuraini                                     22313216
·         Dhia Fitrianti S                                   22313328
·         Dimas Wirawan                                 22313529
·         Dinda Melinda                                   22313553
·         Dwiki Wahyu Ramadhan               22313722
·         Hares Nanda                                                                      3TBO1

KATA PENGANTAR


Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karenaatas rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan laporan ini dengan baik. Laporan yang berjudul Identifikasi Bangunan Sekolah ini membahas mengenai sistem penyaluran air bersih maupun pembuangan air kotor, bekas, dan air hujan.
Dalam penulisan ini kami bekerja sama mengumpulkan data-data yang dibutuhkan dengan survey langsung ke sebuah sekolah di Depok. Oleh karena itu, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu pengerjaan laporan ini.
Kami sadar bahwa dalam laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, Hal itu di karenakan keterbatasan kemampuan dan pengetahuan kami. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita.
Akhir kata, kami memohon maaf apabila dalam penulisan laporan ini terdapat banyak kesalahan.


Depok, Februari 2015


Tim Penyusun












DAFTAR ISI











BAB I

PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang


Jaringan atau jalur untuk air bersih, air kotor, listrik, dll atau biasa disebut utilitas harus disusun secara teratur dan rapi agar tidak terjadi kesalahan seperti bertemunya pipa antara air bersih dan air kotor, kebocoran yg menyebabkan ketidaknyamanan.
Sekolah merupakan sarana tempat untuk belajar dan mengajar, jaringan utilitas sekolah harus ditata dengan baik karena merupakan tempat bertemunya orang banyak. Jumlah sarana seperti penerangan, toilet harus disesuaikan dengan kapasitas orang yg berada di tempat tersebut.
Jaringan serta system utilitas yang berada di sekolah harus disesuaikan berdasarkan faktor-faktor seperti penempatan septictank yang jauh dari ruangan belajar mengajar, jaringan air bersih dan air kotor harus dipisahkan agar kebersihan air tetap terjaga, dan jika terjadikebocoran pada pipa tidak mengganggu proses belajar mengajar yang sedang berlangsung.












BAB II

ISI

2.1 Data Sekolah

                Nama Sekolah                   : SDN. Depok Baru 5
                Alamat Sekolah                 : Jl. Gelatik Raya
                Luas Tanah/lahan             : ± 2800 m2
                Luas Bangunan                  : ± 2300 m2

2.2 Data Bangunan

NO.
NAMA RUANGAN/BANGUNAN
JUMLAH
1.
Ruang Kelas
7 ruang
2.
Perpustakaan
1 ruang
3.
R. Kepala Sekolah
1 ruang
4.
R. Dinas Guru
1 ruang
5.
R. Penjaga
1 ruang
6.
Musholla
1 bangunan
7.
R. Guru
1 ruang
8.
UKS
1 ruang
9.
WC/Toilet
7 ruang










2.3 Mapping/Layout Bangunan




2.4  Jaringan Air Bersih

2.5 Jaringan Air Kotor

2.6 Saluran Air Hujan



                                        

2.7 Analisa Masalah


                Pada bangunan sekolah yang telah diidentifikasi, terdapat sebuah masalah yang cukup mengkhawatirkan, yaitu tidak adanya tangki septik maupun sumur serapan pada bangunan sekolah tersebut. Hal ini dikarenakan jarak dari permukaan tanah ke muka air tanah hanya berjarak 1 meter, maka dari itu pembuatan tangki septik tidak mungkin dilakukan karena dapat mencemari air tanah pada daerah tersebut.
            Seperti yang kita tahu, fungsi dari Septic Tank itu sendiri adalah sebagai penampungan air limbah dan proses penghancuran kotoran/feses yang masuk,lalu kemudian air limbah tersebut akan mengalir ke sumur resapan yang biasanya jaraknya tidak jauh dari septictank.
            Bisa dibayangkan dampak yang terjadi pada lingkungan apabila tidak adanya tangki septik pada suatu bangunan. Pada kasus ini, bangunan sekolah memiliki jalur pembuangan ke arah belakang sekolah atau lebih tepatnya ke arah sungai di belakang sekolah. Pipa-pipa pembuangan air kotor yang langsung mengarah ke sungai tanpa adanya penyaringan atau proses penghancuran kotoran maka dapat dipastikan bahwa air sungai akan mudah sekali tercemar, karena air kotor mengandung banyak sekali kuman dan bakteri.
            Air yang tercemar mengandung zat organik, anorganik, dan zat-zat tambahan lain yang menyebabkan berkurangnya kualitas air sehingga tidak layak lagi dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Air yang tercemar biasanya berwarna keruh dan cenderung berbau. Hal ini disebabkan oleh penurunan kadar oksigen dalam air akibat penyerapan yang dilakukan oleh nitrogen, hidrogen, unsur karbon, dan belerang.
            Pembuangan langsung ke arah sungai juga dapat mengakibatkan munculnya bau tidak sedap, hal itu disebabkan oleh limbah organik yang membusuk yang mengakibatkan bertambahnya populasi mikroorganisme dan lebih fatal lagi dapat menimbulkan bakteri patogen atau bakteri yang menyebarkan penyakit pada manusia dan hewan. Bau yang menguap ke permukaan berasal dari senyawa amoniak yang diuraikan oleh mikroorganisme tersebut.






Berikut adalah jaringan pembuangan air kotor pada sekolah Depok Baru 5




Bisa dilihat arah pipa pembuangan mengarah langsung ke sungai, dengan dampak yang sudah dijelaskan sebelumnya, maka dibuatlah skema jaringan saluran pembuangan air kotor yang semestinya, seperti di bawah ini


Tentu saja rencana instalasi pipa air kotor dan bekas ini dapat dilaksanakan apabila memungkinkan pembuatan tangki septik pada daerah tersebut.
                Selain permasalahan di atas, tidak ditemukannya lagi permasalahan lain yang ada pada sekolah tersebut baik pada saluran air bersih maupun air hujan.

BAB III

PENUTUP


3.1 Kesimpulan

                Pada bangunan sekolah dasar Depok Baru 5 yang telah diidentifikasi, maka dapat disimpulkan bahwa lahan yang digunakan untuk membangun sekolah tersebut kurang layak digunakan, karena tidak memungkinkannya dibangun tangki septik yang merupakan hal yang sangat penting pada sebuah bangunan. Tidak adanya tangki septik pada bangunan tersebut tentu saja mempengaruhi lingkungan yang ada di sekitarnya terutama sungai yang terletak di belakang site.
                Pencemaran langsung pada sungai tersebut akan berdampak langsung pada daerah di sekitarnya, terlebih lagi jika di sekitar sungai tersebut terdapat pemukiman penduduk. Bakteri dan kuman yang ditimbulkan akan mempengaruhi kesehatan makhluk hidup di daerah tersebut. Dan yang seperti kita ketahui jalur alur sungai dapat mencapai beberapa kilometer panjangnya, yang berarti pencemaran pada satu titik tersebut dapat mencemari lingkungan yang berada pada jarak beberapa kilometer jauhnya.
                Yang lebih disayangkan adalah, bangunan yang tidak memiliki tangki septik ini adalah bangunan sekolah dasar, dimana banyak anak-anak kecil yang beraktifitas pada area tersebut. Sangat disayangkan apabila dampak pencemaran air sungai itu berpengaruh pada kesehatan murid-murid di sekolah terdebut.
                Maka dari itu, lahan dengan kondisi seperti ini tidak cukup layak untuk dibangun sebuah sekolah mengetahui dampak yang ditimbulkan yang dapat berpengaruh langsung pada orang-orang yang beraktifitas pada sekolah tersebut maupun orang-orang yang berada di sekitar site sekolah.


 Lampiran





 Tampak depan SDN Depok Baru 5